Belajar Nilai-nilai Dasar dari Dream Theater
Muhammad Ihwan
| 06 December 2010 | 14:25
Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond?
And what lay before?
Is anything certain in life?
If I die tomorrow, I’d be allright
Because I believe That after we’re gone,
The spirit carries on
I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I’m not scared anymore
I know that my soul will transcend
I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove What I know to be true
But I know that I still have to try
[ Taken from Spirit Carries On, Music by Dream Theater, Lyrics by John Petrucci]
Cuplikan lagu dream theatre ini mengingatkan saya akan banyak hal, diantaranya adalah 3 (hal) yang harus dibangun oleh seorang muslim. Pertama adalah bagaimana pentingnya manusia memiliki kepercayaan (believe), kesadaran bahwa hidup manusia itu trensendental (transcend), dan sesuatu yang harus dilakukan manusia adalah usaha (try).
Mengapa harus percaya? kepada apa/siapa kita harus percaya? Ini dua pertanyaan yang sering terngiang dulu. Mengapa di siang hari kita minum air dingin, mengapa sewaktu sakit kita minum obat, dan mengapa kita sekolah harus belajar, itu adalah jawaban untuk haus, untuk sembuh dan untuk pintar. Kita percaya bahwa air dapat menghilangkan dahaga kita, kita pun percaya obat mampu menyembuhkan sakit kita, dan kita percaya bahwa belajar adalah jawaban untuk menjadi pintar. Dapatkah kita bayangkan bila tidak ada kepercayaan? Sekarang permasalahannya adalah kepercayaan seperti apa yang harus dipilih?
Karena kepercayaan akan melahirkan sikap ketertundukan total terhadap apa yang dipercayainya, maka kepercayaan harus kita sandarkan pada yang pada yang benar. Kepercayaan akan melahirkan tata nilai, nilai akan membentuk norma, dan norma akan melahirkan cara pandang atau sikap. Logikanya, kepercayaan yang benar akan melahirkan tata nilai yang benar, membentuk norma yang benar dan melahirkan cara pandang yang benar pula.
Lalu, siapa pemilik kebenaran? Percaya pada kebenaran harus disematkan pada pemilik kebenaran, sesuatu Yang Tak Terbantahkan, zat yang bahkan memiliki segala kebenaran, dan bersemayam pada hakekat kebenaran. Kebenaran mutlaq inilah kemudian yang sering kita sebut sebagai Tuhan. Memang, diskusi tentang Tuhan sampai kapan pun tidak akan pernah sampai pada kesimpulan akhir, tetapi nampaknya tema ketuhanan tetap menarik untuk dikemukakan. Manusia selalu memiliki hipoesa dan sintesa masing-masing terhadapNya.
Namun sebelum jauh membahas hal ini, siapakah yg disebut manusia itu?, apa pula itu yg disebut kemanusiaan? Apa perbedaan manusia dengan mahluk lainnya? Ada baiknya saya sampaikan 2 (dua) perbedaan mendasar antara manusia dan mahluk lainnya. Pertama, adalah bahwa manusia merupakan totalitas, sementara mahluk lainnya adalah bagian dari totalitas. Manusia diciptakan dalam citra Tuhan, sementara mahluk lainnya hanyalah sebagian bentuk dari konfigurasi kualitas-kualitas Tuhan.
Perbedaan kedua adalah bahwa, mahluk-mahluk lain memiliki jalur kehidupan yang pasti dan tidak pernah menyimpang darinya. Sebaliknya, manusia tidak memiliki hakekat yang pasti karena hakikat manusia sesungguhnya tidak diketahui, mereka harus memulia dan mengalami proses terlebih dahulu yang bisa membantu mereka menjadi apa seharusnya. Pada mulanya, semua manusia memiliki potensialitas tidak terbatas yang sama karena mereka adalah mahluk yang diciptakan menurut citra ilahi, yakni bahwa manusia didefinisikan oleh fakta bahwa mereka terbuka lebar-lebar menuju Zat Maha Tak Terbatas.
Dalam nomenklatur dunia Islam, Islam membedakan antara manusia yang memenuhi harapan-harapan Tuhan dan mereka yang tidak, atau mereka yang menjalankan peran manusia dalam eksistensi dan mereka yang tidak. Contoh, pada ranah keimanan paling dasar, al-Qur’an membedakan antara manusia yang beriman dan manusia yang tidak. Dalam perspektif kehidupan dan pemikiran Islam, manusia digolongkan menurut tingkat pemenuhan tujuan kehidupan.
Salah satu ajaran Islam yang populer adalah ajaran untuk saling mengingatkan didalam kebaikan dan saling mencegah dari perbuatan munkar. Konsep-konsep antropologis adalah konsep yang pertama kali ditanamkan Islam setelah konsep ketuhanan. Manusia menjadi titik sentral dalam kepemahaman akan ciptaan Tuhan.
Dulu saya pernah diajarkan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi. Bagaimana konsep khalifah itu sesungguhnya, apa saja perangkat pendukungnya? Dalam konteks ber-khalifah, kemerdekaan adalah fitrah manusia yang diberikan Tuhan. Kemerdekaan itu merupakan sifat dasar manusia. Kemerdekaan juga sesuatu hal yang penting bagi setiap pribadi, sebagaimana pentingnya udara bagi paru-paru, sinar bagi pengelihatan, dan ruh bagi jasad manusia. Kemerdekaan merupakan hal yang didampa oleh setiap manusia. Kebebasan merupakan salah satu dasar dibentuknya undang-undang bagi setiap negara yang tak lain untuk menjamin kehidupan setiap individu dan golongan. Hak kemerdekaan ini harus mendapatkan jaminan oleh pemerintah.
Kalimat kemerdekaan manusia sesungguhnya bersumber pada ajaran tauhid Islam yang termaktub jelas dalam kalimat tauhid laa illa Ha illallah yang mengandung makna yang cukup dalam. Tauhid merupakan gambaran umum tentang realitas. Realitas disini dapat dibedakan menjadi dua bahasan, Tuhan dan bukan Tuhan, Pencipta dan yang diciptakan. Bahasan pertama adalah realitas yang absolut, Dia selamanya mutlak dan tidak bersekutu. Sedangkan pada bahasan kedua adalah tatanan ruang, waktu dan penciptaan.
Pernyataan kalimat tauhid diatas mempertegas perbedaan antara manusia dengan Tuhan, dunia dengan akhirat, yang relatif dengan yang absolut, yang profan dan yang sakral. Dengan kerangka pikir yang demikian, Tuhan menjadi satu-satunya yang absolut dan sakral; Dia tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. Hubungan antara dua realitas ini merupakan hubungan ideasional. Hal ini berangkat dari pemahaman manusia sebagai fakultas pemahaman, tempat menyimpan ilmu pengetahuan. Melalui peran inilah sudah semestinya manusia mampu memahami kehendak dan pola Tuhan terhadap alam, sehingga manusia berbuat sesuai kehendaknya Tuhan dengan sesuai pula dengan sunnatullah yang telah ditetapkanNya. Wallahu’alam bishawab.. Bagaimana menurut Saudara??
(gw ambil dari kompas, penulis, tanggal n jam udah tertera ya)
(gw ambil dari kompas, penulis, tanggal n jam udah tertera ya)
No comments:
Post a Comment